Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas presiden terpilih Prabowo Subianto berpotensi menghasilkan puluhan juta unit limbah kemasan per hari dan meningkatkan jejak karbon dari logistik pangan, memicu kekhawatiran masalah lingkungan baru. Inisiatif nasional ini bertujuan meningkatkan akses gizi bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Laporan lembaga internasional menunjukkan 39% sampah plastik nasional berasal dari kemasan makanan, sehingga MBG berisiko memperparah polusi plastik laut.
Minimnya infrastruktur pengelolaan sampah di sekolah dan ketergantungan pada transportasi berbahan bakar fosil juga menambah potensi emisi karbon yang tidak selaras dengan target net-zero 2060.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan desain kebijakan yang lebih ramah lingkungan dengan beberapa langkah yang dapat diterapkan.
Langkah-langkah tersebut antara lain menghapus kemasan sekali pakai dan menggantinya dengan kotak makan reusable, membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis sekolah melalui pemilahan dan komposting, memprioritaskan bahan pangan lokal untuk memperpendek rantai pasok dan mengurangi emisi.
Selain itu, perlu dilakukan audit jejak karbon nasional untuk memantau keberlanjutan program, serta mengedukasi anak-anak mengenai konsumsi sadar dan memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum pendamping MBG.
Dengan langkah-langkah tersebut, MBG diharapkan tidak hanya menjadi solusi gizi, tetapi juga program yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.



Komentar