Padang – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) aktif mendorong generasi muda Indonesia untuk menunaikan ibadah haji lebih awal. Salah satu caranya adalah dengan menggandeng Universitas Andalas (UNAND) melalui program edukasi interaktif "Muda Naik Haji" yang digelar di Kampus Limau Manis.
Anggota Badan Pelaksana BPKH RI, Harry Alexander, menyampaikan bahwa paradigma masyarakat yang menganggap haji hanya untuk orang tua perlu diubah. "Haji itu butuh istithaah, kemampuan keuangan dan fisik yang baik, dan itu ada di usia produktif," ujarnya. Ia menambahkan, BPKH menyoroti pola konsumsi Gen Z yang cenderung boros untuk gaya hidup. Menurutnya, dengan menabung dan mengurangi pengeluaran kecil seperti kopi, generasi muda bisa lebih cepat mengumpulkan dana untuk setoran awal haji. "Kalau ditabung, sehari mengurangi satu kali ngopi saja, dalam dua tahun bisa terkumpul Rp25 juta," jelasnya.
Rektor UNAND, Dr. Efa Yonnedi, menyambut baik inisiatif BPKH ini. Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya merencanakan keuangan untuk ibadah haji sejak dini.
BPKH mencatat, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun ini sekitar Rp87 juta, di mana 68% atau Rp54 juta dibayarkan oleh jemaah, dan sisanya disubsidi dari nilai manfaat hasil investasi BPKH. Tahun ini, BPKH menyalurkan Rp12,1 triliun nilai manfaat investasi, dengan Rp8 triliun untuk jemaah yang berangkat dan Rp4,4 triliun untuk jemaah daftar tunggu.
Sebagai apresiasi, panitia menyiapkan berbagai insentif bagi peserta, termasuk tabungan haji, sertifikat elektronik, kuis interaktif, buka puasa bersama, dan undian tabungan haji senilai Rp5 juta. BPKH berharap mahasiswa dapat menjadi agen literasi keuangan haji di lingkungan sekitarnya. Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari, Hafid Dauli, serta sejumlah tokoh muda dan influencer turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini.



