Padang – Perbankan syariah di Sumatera Barat mencatatkan kinerja gemilang sepanjang tahun 2025, dengan pertumbuhan aset yang jauh melampaui industri perbankan secara keseluruhan. Total aset perbankan syariah mencapai Rp14,36 triliun, melonjak 10,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Barat, Roni Nazra, mengungkapkan bahwa pencapaian ini mencerminkan peran penting perbankan syariah dalam menopang perekonomian daerah, serta minat masyarakat yang tinggi terhadap produk dan layanan keuangan syariah. "Perbankan syariah di Sumatera Barat terus menunjukkan kinerja yang sangat positif. Pertumbuhan aset dan pembiayaan yang tinggi menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan masyarakat," ujarnya.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah mencapai Rp11,20 triliun, tumbuh 2,74 persen (yoy). Sementara itu, penyaluran pembiayaan mencapai Rp12,10 triliun, dengan pertumbuhan signifikan sebesar 14,27 persen (yoy), menunjukkan fungsi intermediasi yang semakin kuat.
Kualitas pembiayaan perbankan syariah juga terjaga dengan baik. Rasio Non Performing Financing (NPF) berada di level 1,75 persen, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (1,32 persen), namun masih dalam kategori aman. "Rasio NPF perbankan syariah tetap rendah dan terkendali. Ini menunjukkan penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang berjalan cukup baik," kata Roni.
Secara keseluruhan, industri perbankan di Sumatera Barat mencatat total aset sebesar Rp85,37 triliun atau tumbuh 1,64 persen (yoy) pada Desember 2025. Penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp73,86 triliun atau tumbuh 0,68 persen (yoy), dengan penghimpunan DPK sebesar Rp58,98 triliun atau tumbuh 5,09 persen (yoy). Kualitas kredit perbankan secara umum masih terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,67 persen, meskipun sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2,10 persen).
Bank Perekonomian Rakyat (BPR), baik konvensional maupun syariah, juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Total aset BPR di Sumbar mencapai Rp3,12 triliun atau tumbuh 11,35 persen (yoy), dengan penghimpunan DPK sebesar Rp2,29 triliun dan penyaluran kredit serta pembiayaan sebesar Rp2,25 triliun. Sebanyak 71,39 persen kredit dan pembiayaan BPR disalurkan kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menegaskan peran BPR sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan.
OJK Sumbar akan terus mendorong penguatan perbankan syariah agar semakin berkontribusi terhadap pembiayaan sektor produktif dan pembangunan ekonomi Sumatera Barat secara berkelanjutan.






