LIMAPULUH KOTA – Komandan Korem 032/WBR, Brigjen TNI Aji Mimbarno, meresmikan selesainya renovasi bangunan Panti Asuhan Darul Funun El-Abbasiyah di Nagari Guguak VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, Jumat (16/10/2026).
Prosesi peresmian tersebut turut dihadiri oleh Bupati Limapuluh Kota, jajaran Forkopimda, serta para Komandan Distrik Militer setempat.
Para tamu undangan menyaksikan tayangan visual yang mendokumentasikan kondisi panti asuhan sebelum, selama, hingga tuntasnya proses perbaikan bangunan.
Brigjen TNI Aji Mimbarno menjelaskan bahwa inisiatif renovasi tersebut muncul saat ia berkunjung ke kampung halaman istrinya dan melihat langsung kondisi bangunan yang membutuhkan perhatian.
“Ini merupakan bakti TNI, murni donasi donatur; awal kami membangun atau merenovasi panti asuhan saat pulang kampung ke rumah istri di sini, dan keliling kampung hingga sampai di panti asuhan, saat itu kami lihat kondisi panti harus diperbaiki,” ujar jenderal bintang satu tersebut.
Selain membenahi infrastruktur fisik, Danrem menekankan pentingnya pembentukan karakter bagi para santri yang tinggal di sana.
“Kita tentu berharap tidak hanya bangunan fisik saja yang dibangun, namun juga perilaku, mulai dari bangun tidur,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, pihak TNI menyalurkan bantuan berupa paket sembako serta Al-Qur’an kepada para santri.
Bupati Limapuluh Kota, Safni, menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi nyata TNI dalam mendukung sektor pendidikan di wilayahnya.
“Hal ini bentuk kepedulian TNI dalam wujudkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak kita,” tutur Safni di hadapan ratusan tamu undangan.
Ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, Fahlevi Mazni, memaparkan bahwa lembaga pendidikan tersebut memiliki akar sejarah panjang yang bermula dari pendirian Surau Gadang pada tahun 1854.
“Panti Asuhan ini berawal dari Surau Gadang 1854 hingga terus berkembang dan berubah nama saat 1931 di masa Syaich Abbas Abdullah dan Syaich Mustafa Abdullah dirubah menjadi Darul Funun El-Abbasiyah,” jelas Fahlevi.
Pihak yayasan kini tengah memperjuangkan agar kompleks pendidikan tersebut dapat ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional.
“Kita berharap jadi cagar budaya, karena ada peristiwa sejarah di sini, dahulu Presiden RI Pertama, Soekarno, pernah berkunjung tahun 1943-1944 untuk berdiskusi dan minta petunjuk, beliau juga dihadiahi peci hitam yang kemudian jadi peci Nasional,” pungkasnya.








Komentar