10 Ribu Kasus TBC di Sumbar Belum Tertangani, Pemerintah Perkuat Eliminasi

Padang – Pemerintah pusat menyoroti masih adanya 10 ribu kasus Tuberkulosis (TBC) di Sumatera Barat yang belum mendapatkan penanganan medis secara intensif. Angka tersebut merupakan selisih dari total estimasi 25 ribu kasus, di mana baru 15 ribu pasien yang berhasil terdeteksi dan menjalani pengobatan.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius dalam upaya eliminasi TBC nasional. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap pemberantasan penyakit ini karena angka kematian akibat TBC di Indonesia masih sangat tinggi, yakni mencapai 126 ribu jiwa per tahun.

"Artinya masih ada sekitar 10 ribu orang di Sumatera Barat yang belum mendapat penanganan intensif. Inilah tantangan kita ke depan," ujar Benjamin saat menghadiri Rapat Koordinasi Percepatan Eliminasi TBC di Auditorium Gubernuran, Padang, Selasa (12/5/2026).

Benjamin menekankan bahwa penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Pemerintah pusat kini tengah menyiapkan strategi lintas sektor, termasuk rencana renovasi 8.000 rumah layak huni bagi pasien TBC serta mengusulkan pemberian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi keluarga kurang mampu untuk mendukung pemulihan pasien.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyatakan kesiapan jajarannya untuk bersinergi hingga ke tingkat nagari dan desa. Ia menekankan pentingnya pelibatan unsur kewilayahan seperti camat, lurah, Babinsa, hingga kader kesehatan untuk memperluas jangkauan pelacakan kasus.

"Kami beserta seluruh jajaran siap bersinergi dengan pemerintah pusat dalam penanganan berbagai isu kesehatan. Jangan sampai masyarakat datang ke rumah sakit ketika kondisi sudah parah. Itu yang perlu kita edukasi bersama," tegas Mahyeldi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, dr. Aklima, mengungkapkan bahwa capaian penemuan kasus TBC di daerahnya baru menyentuh angka 62 persen dari total estimasi 25.037 kasus pada 2024. Pihaknya optimistis optimalisasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) akan menjadi kunci utama dalam menjaring sisa kasus yang belum terdeteksi di tengah masyarakat.

"Masih banyak kasus yang belum ditemukan. Penguatan implementasi Cek Kesehatan Gratis, kami yakini bisa menjadi solusi," pungkas Aklima.